Sedikit Share tentang Kebijakan Prodi Keperawatan UIN
>> Rabu, 05 Desember 2012
BISMILLLAHI,..
Suara hati : Abd.Rahman Rara, S.Kep
tidak tahu mau berkata apa, tapi seperti inilah realitanya.
Mau tidak mau harus diterima,.. tapi alangkah bagusnnya kalau kita saling memngingatkan.
Mau tidak mau harus diterima,.. tapi alangkah bagusnnya kalau kita saling memngingatkan.
mari kita bahas point per perpoint.
1. melihat biaya pendaftaran yang ditawrkan kepada calon mahasiswa profesi, bagi saya ini terbilang mahal. sama halnya ada penyimpanan dibalik kebijakan ini.
beban yang diberikan terlalu diskriminatif sekali. seakan2 program ini setara dengan Strata Magister(S2)bahkan lebih mahal lg dibanding S2. tolong para pimpinan diberikan petimbangan juga terkait biaya pendaftaran. jangan karena saat ini wajib masuk profesi karena tuntutan profesi lantas kebijakan yg diambil sewenang2 saja. sama hal nya itu mendzalimi. (kami buth informasi sj spy jelas).
2. biaya BTQ untuk calon pendaftar yah km terima, tp knp mesti disamakan pembayarannya antara alumni UIN sendiri dgn Alumni dari Luar. padahal seyogyanya pihak UIN lebih bertanggung jawab terhadap alumninya klw masih ada yg tidak fasih membaca Al-qur'an. jangan cuma biaya2 terus yg dikeluarkan lantas hasil alumninya NOL. paling tidak unutk maslah ini di leburkan saja khusus alumni uin atau mungkin diberi pembekalan khusus klw memang blm mahir. kenapa demikian krn setelah kami masuk di UIN kami sdh ikuti program FIKIH dan QIRAAH selama satu tahun plus dengan sertifikatnya dan paling tidak ini yg manjdi dasar kami bahwa kami sdh lulus untuk ujian BTQ. bukannya kami takut tp kami melihat ini adalah kedzaliman. Disuruh membayar padahal kami sudah punya sertifikiat FIKIH dan QIRAAH apalgi kami lulus S1 bukan secara instaan loh, ujian2 semester dan ujian skripsi kami intergritas bukan asal2an. Jadi kalau pihak uin membebani alumni UIN berarti kebijakan ini dipertanyakan.
dan kami juga akan terima jk perlu dosennya khsusus nya dosen keperawatan juga perlu dites dulu sebelum kami jg dites. berikan contoh donk.
Heran,heran dan heran juga baca rincian biayanya, kenapa mesti di rincikan biaya BTQnya untuk alumni. tidak adakah tanggung jawab moral pihak UIn kepada alumninya.
3. program ini nampaknya dibuka secar UMUM, artinya belum pasti alumni UIN akan lulus. nah yang jadi pertanyaan besar, atas dasar apa pihak UIN memberikan kebijakan yg seperti ini. kenapa pihak uin tidak mempaketkan langsung sampai selesai lulus Ners untuk mahasiswa yg telah lulus Ujian masuk PTN. berrarti pihka UIN tidak memiliki tanggung jawab moril terhadap alumninya.(mana background UIN nya).
padahal untuk masuk d PTN itu butuh perjuangan yg keras. artinya km yg lulus telah melwati berbagai ujian masuk PTN lewat PMJK, SNMPTN, UMB, UML dll. apakah seleksi yg ketat ini tidak memberikan jaminan bahwa mahasiswa yg lulus itu adalah orang2 yang beinteleqtual tinggi dan agamis. sampai2 kami harus berperang melawan ribuan orang2 cerdas di Indonesia untuk mendapatkan jata kursi sbg mahasiswa keperawatan. lantas kenapa mesti pihak UIN mendzalimi lagi alumninya utnuk ikut lagi dalam pertarungan seleksi masuk profesi (mesti bayar lagi kwodong)
maka tetsimoni saya saat ini untuk pihak UIN.
klw masih ada seleksi masuk profesi ners khusu untuk alumni. maka metode seleksi yg diberikan oleh UIN selama ini melalui PMJK, UML, SNMPTN dll masih DIPERTANYAKAN dan DIRAGUKAN.???????
kenapa pihak UIN tidak mencontohi PTN yang favorit (UNHAS,UI,UNAIR,UGM dll) bahkan juga STIKES negeri dan SWASTA baik di lokal maupun nasional yg memberikan program satu paket dari prodi S1 keperwatan samapai NERS. mungkin kalau pihak swasta wajar lah, tp ini deh PT Negeri. Apaji, KECEWA Ja', UIN bedeng baru begituh. toh tidak mau mencontohi yg sdh di buat oleh PTN yg lainnya.
kenapa,kenapa,dan kenapa???
apakah atas dasar murah pembayaran semesternya di UIN khusus profesi ners (uang pendaftarannya mahal) atau apalah sehingga klw dibuka secara umum pasti org akan berlomba2 untuk mendaftar, maka muncul hipotesis sementara jangan2 ini investasi besar untuk masuk dikas UIN.(maaf klw dzuudzon)
kalau saya memposisikan bkn alumni UIN, maka penilan saya saat ini UIN belum kredibilitas dan Profesional. tidak konsisten terhadap mahasiswanya yg skrng mati2an menntut ilmu di UIN lantas tidak memberikan kelonggaran sampai betul2 dikatan profesional.
inikah yg diharapkan oleh pihak UIN. mestikah merka rela2 buat aturan perekrutan sampai2 tiga jalur seleksi yg ditawarkan. agar meraka mendapatkan lagi mahasiswa yg fresh face nya atau ada sesuatu yg terselubung atau seperti apalah.
padahal jika pihak UIN konsisten terhadp alumninya untuk menpaketkan program S1 dan NERS boleh jadi alumni yg diharapkan akan lebih menjanjikan mengingat kurikulum yg dijalankan skrng betul2 atas dsar best practice dan best teoritis untuk S1 nya sekarng nd tw mi iya klw profesinya. (pokoknya salut saja sm mahasiswa S1 UIN sekarng).
mengingat juga belum ada jaminan alumni uin bisa lolos seleksi CPNS minimal dia lulus berkasmo dulu. (pengalam penerimaan CPNS kemenkes 2012 tidak lulus berkas krn akreditasi C uin. klw kemarin2 adaji tawwa tp untuk kedepannya kebijakan itu dihapuskan). Lantas adakah rasa tanggung jawab moril dan empati terhadp alumninya.
kenapakah seperti itu?
(jadi curhatko ceritanya ini, TERUZ mesti bilang wow githu),...
4. Sampai saat ini alumni uin yang mendaftar program profesi masih banyak yg gugur pada waktu ditest. Apakah ini membuktikan bahwa alumni uin kualitasnya masih dipertanyakan ataukah memang ada udang dibalik batu. Tes nya susah, orangnya kurang pintar atau kurang cerdas kali.
lantas jika alumni uin berguguran pada waktu hasil test di umumkan dan alumni dari luar ternyata ada juga yang lulus, apakah pihak alumni tidak merasa tersinggung melihat anaknya sendiri nangis lantas anak orang lain gembira.
5.kalau selama ini mahasiswa Makassar citranya buruk oleh orang2 luar Makassar, maka saya juga bisa bilang bahwa saat ini citra pihak uin khususnya untuk program profesi ners ternyata juga citranya buruk.
kenapa saya bilang demikian bahwa sampai saat ini yang saya dengar2 keluhan dari senior2 bahwa ternyata terlalu banyak biaya yg dikeluarkan untuk profesi ners. Karena setiap seminar kasus dan jurnal reading mahasiswa mesti mengeluarkan uang saku mereka untuk membiayai orang2 yg telah berpenghasilan, apakah tidak malu klw mahasiswa yang traktir org2 yg telah punya duit. Klw sejenis air minum putih yah wajarlah itu sebatas penghargaan kami sm guru2. Tp kalau mahasiswa yang harus belikan parsel yang isinya wow lumayan mahal (ccm bede) itu kan sdh tidak wajar. Perlu kyaknya diklarifikasi tradisi2 yg sperti ini. Jika hal ini dibiarkan berarti produksi generasi profesi keperawatan saat ini untuk kedepannya dituntut kembali modal. Mengingat biaya yg dikeluarkan sangat banyak. Artinya banyak jalan menuju roma (tergantung individu, apakah positif ataupu negatif) dan boleh jadi berimbas pada pelayanan kesehatan kedepannya karena tidak memikirkan sisi kemanusiaan lagi akan tetapi yang dipikirkan bagaimana caranya biaya kuliah harus kembali semuanya (hipotesis sementara tp sdh ada yang terbukti).
6.kemudian keluhan juga dari senior bahwasanya tidak ada keseragaman antara metode askep yg diterapkan oleh pihak institusi dengan pihak lahan. Masing2 memiliki metode tersendiri, apakah NANDA (the north American nursing diagnosis association), NIC(nursing intervention clasification ),NOC (nersing outcome classification) ataukah ISDA yang sekarang lg berkembang (Intan’s screening diagnoses assesment). Jadinya mahasiswa pusing yg mana yg benar institusi ataukah lahan.
nah muncul pertanyaan, kan sebelum senior terjun kelahan mereka pada ngumpul bareng baik dari institusi maupun dari lahan, artinya sdh ada pembicaraan awal tentang masalah tersebut tp kenapa pada prakteknya beda. Maka muncul hipotesis, sebenarnya mereka diskusi tentang keseragaman askep atau apakah? Kenapa masalah yg seperti ini selalu terjadi, apakah tidak ada evaluasi hingga Jatuh terus dalam lubang yang sama.
6.kemudian keluhan lagi dari senior, maaf klw terlalu banyak keluhannya.
katanya alumni profesi nantinya akan menghasilkan lulusan yang professional yang mengandalkan sama teori2 ilmiah bkn abal2 yg asbun (asal bunyi). Nah saran sama penaggung jawab profesi ners, senior2 kami yang ingin meminjam buku di perpustakaan itu masih terhambat alias tidak bisa meminjam, berarti dituntut dong punya buku sendiri (bagus lagi iya punna nia doe’). Katanya belum ada klausul kerjasama dari pihak profesi dangan pihak perpus. Nanti gara2 itu kami tidak kembalikan bukunya perpus. Kan rugi perpus toh. Nah untuk program sekarng ajaran tahun 2013 mestinya sdh bisa pinjam buku diperpus fakultas dan umum.supaya kami juga leluasa mendapatkan referensi dari buku sehingga tugas kami tidak lantas kopas dari senior2 tp memang betul2 kami bisa pertanggung jawabkan. Kan kalau seperti ini akan separel dengan visi dan misi uin. Ini masukan unutk pihak uin barangkali terlupakan. Ada namanya itu khilaf toh. Jadi kit saling mengingatkan.
7. Terus untuk PANUM mungkin masukan aja, seyogyanya harus ada review ulang materi ASKEP yang akan nanti di buat pada waktu mahasiswa turun kelapangan. Jadinya tidak kebablasan dan tidak asal kopi saja. Hasil akan sejalan dengan kesiapan. Kalau tidak siap lantas langsung terjun kelapangan, kan bisa2 mati ditempat. Karena pengalaman selama mengcover profesi, yang lagi panum sedikit sekali yang mengulang askep masing2 departement. Rata2 dosen hanya mengajarkan praktiknya itupun masih setengah2. belum ada pengawasan dari pihak penangnggung jawab profesi ners. Padahal menurut saya ini yang lebih penting krena menyangkut tindakan mandiri perawat dan keberhasilan pelayanan kesehatan. (yah mungkin juga karena terkendala SDM).
8. masukan lagi bisa yah dijelaskan apa saja kelebihan yang akan kami dapatkan jika mendaftar pada program profesi ners spy kami tidak mengeluh akan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak UIN. Kan kalau ada informasi jelas tentang alasan2 diatas tdk adalagi unsure saling menjelek2 kan malahan kita harusnya saling membangun dan memberikan motivasi.
Apakah kami kalau lulus akan terjamin ikut menjadi peserta UKK (ujian kompetensi Keperawatan) krn salah satu prasyarat ikut UKK, program profesi tersbut harus terakerditasi minimal C dan spengetahuan saya prodi UIN masih ijin penyeleggaraan profesi dan belum terakreditasi.? Mohon share infonya.
saya kira serangakaian sharing diatas ini hanyalah secuil pengalaman dan penilaian dari program diatas, mungkin masih banyak lagi saran,kritikan, dan komentaar tp tak sempat tersalurkan. Semoga dengan keluhan diatas menjadikan saya tidak berprasangka buruk akan tapi lebih mengarah pada saling nasehat-menasehati (sesuai dengan QS.Al-ashr) dan hadits rasulullah untuk saling memperingati dan saling membangun.( jika ada yang berbuat kejelekan maka pukullah dia, kalau tidak bisa dipukul, maka tegurlah dia dan kalau tidak bisa lagi yah masukkan dalam hati dan doakan dia spy kembali kejalan yang benar dan itulah selemah2 IMAN.)
mudah2an tuhan menilai ibadah disiinya segala amal usaha yang kita lakukan.AMIN.

0 komentar:
Posting Komentar