BISMILLLAHI,..
Suara hati : Abd.Rahman Rara, S.Kep
Sangat,sangat,sangat dan sangat mengganjal.
tidak tahu mau berkata apa, tapi seperti inilah realitanya.
Mau tidak mau harus diterima,.. tapi alangkah bagusnnya kalau kita saling memngingatkan.
mari kita bahas point per perpoint.
1. melihat biaya pendaftaran yang ditawrkan kepada calon mahasiswa
profesi, bagi saya ini terbilang mahal. sama halnya ada penyimpanan
dibalik kebijakan ini.
beban yang diberikan terlalu diskriminatif
sekali. seakan2 program ini setara dengan Strata Magister(S2)bahkan
lebih mahal lg dibanding S2. tolong para pimpinan diberikan petimbangan
juga terkait biaya pendaftaran. jangan karena saat ini wajib masuk
profesi karena tuntutan profesi lantas kebijakan yg diambil sewenang2
saja. sama hal nya itu mendzalimi. (kami buth informasi sj spy jelas).
2. biaya BTQ untuk calon pendaftar yah km terima, tp knp mesti
disamakan pembayarannya antara alumni UIN sendiri dgn Alumni dari Luar.
padahal seyogyanya pihak UIN lebih bertanggung jawab terhadap alumninya
klw masih ada yg tidak fasih membaca Al-qur'an. jangan cuma biaya2 terus
yg dikeluarkan lantas hasil alumninya NOL. paling tidak unutk maslah
ini di leburkan saja khusus alumni uin atau mungkin diberi pembekalan
khusus klw memang blm mahir. kenapa demikian krn setelah kami masuk di
UIN kami sdh ikuti program FIKIH dan QIRAAH selama satu tahun plus
dengan sertifikatnya dan paling tidak ini yg manjdi dasar kami bahwa
kami sdh lulus untuk ujian BTQ. bukannya kami takut tp kami melihat ini
adalah kedzaliman. Disuruh membayar padahal kami sudah punya sertifikiat
FIKIH dan QIRAAH apalgi kami lulus S1 bukan secara instaan loh, ujian2
semester dan ujian skripsi kami intergritas bukan asal2an. Jadi kalau
pihak uin membebani alumni UIN berarti kebijakan ini dipertanyakan.
dan kami juga akan terima jk perlu dosennya khsusus nya dosen
keperawatan juga perlu dites dulu sebelum kami jg dites. berikan contoh
donk.
Heran,heran dan heran juga baca rincian biayanya, kenapa
mesti di rincikan biaya BTQnya untuk alumni. tidak adakah tanggung jawab
moral pihak UIn kepada alumninya.
3. program ini nampaknya dibuka
secar UMUM, artinya belum pasti alumni UIN akan lulus. nah yang jadi
pertanyaan besar, atas dasar apa pihak UIN memberikan kebijakan yg
seperti ini. kenapa pihak uin tidak mempaketkan langsung sampai selesai
lulus Ners untuk mahasiswa yg telah lulus Ujian masuk PTN. berrarti
pihka UIN tidak memiliki tanggung jawab moril terhadap alumninya.(mana
background UIN nya).
padahal untuk masuk d PTN itu butuh perjuangan
yg keras. artinya km yg lulus telah melwati berbagai ujian masuk PTN
lewat PMJK, SNMPTN, UMB, UML dll. apakah seleksi yg ketat ini tidak
memberikan jaminan bahwa mahasiswa yg lulus itu adalah orang2 yang
beinteleqtual tinggi dan agamis. sampai2 kami harus berperang melawan
ribuan orang2 cerdas di Indonesia untuk mendapatkan jata kursi sbg
mahasiswa keperawatan. lantas kenapa mesti pihak UIN mendzalimi lagi
alumninya utnuk ikut lagi dalam pertarungan seleksi masuk profesi (mesti
bayar lagi kwodong)
maka tetsimoni saya saat ini untuk pihak UIN.
klw masih ada seleksi masuk profesi ners khusu untuk alumni. maka
metode seleksi yg diberikan oleh UIN selama ini melalui PMJK, UML,
SNMPTN dll masih DIPERTANYAKAN dan DIRAGUKAN.???????
kenapa pihak
UIN tidak mencontohi PTN yang favorit (UNHAS,UI,UNAIR,UGM dll) bahkan
juga STIKES negeri dan SWASTA baik di lokal maupun nasional yg
memberikan program satu paket dari prodi S1 keperwatan samapai NERS.
mungkin kalau pihak swasta wajar lah, tp ini deh PT Negeri. Apaji,
KECEWA Ja', UIN bedeng baru begituh. toh tidak mau mencontohi yg sdh di
buat oleh PTN yg lainnya.
kenapa,kenapa,dan kenapa???
apakah
atas dasar murah pembayaran semesternya di UIN khusus profesi ners (uang
pendaftarannya mahal) atau apalah sehingga klw dibuka secara umum pasti
org akan berlomba2 untuk mendaftar, maka muncul hipotesis sementara
jangan2 ini investasi besar untuk masuk dikas UIN.(maaf klw dzuudzon)
kalau saya memposisikan bkn alumni UIN, maka penilan saya saat ini UIN
belum kredibilitas dan Profesional. tidak konsisten terhadap
mahasiswanya yg skrng mati2an menntut ilmu di UIN lantas tidak
memberikan kelonggaran sampai betul2 dikatan profesional.
inikah yg
diharapkan oleh pihak UIN. mestikah merka rela2 buat aturan perekrutan
sampai2 tiga jalur seleksi yg ditawarkan. agar meraka mendapatkan lagi
mahasiswa yg fresh face nya atau ada sesuatu yg terselubung atau seperti
apalah.
padahal jika pihak UIN konsisten terhadp alumninya untuk
menpaketkan program S1 dan NERS boleh jadi alumni yg diharapkan akan
lebih menjanjikan mengingat kurikulum yg dijalankan skrng betul2 atas
dsar best practice dan best teoritis untuk S1 nya sekarng nd tw mi iya
klw profesinya. (pokoknya salut saja sm mahasiswa S1 UIN sekarng).
mengingat juga belum ada jaminan alumni uin bisa lolos seleksi CPNS
minimal dia lulus berkasmo dulu. (pengalam penerimaan CPNS kemenkes 2012
tidak lulus berkas krn akreditasi C uin. klw kemarin2 adaji tawwa tp
untuk kedepannya kebijakan itu dihapuskan). Lantas adakah rasa tanggung
jawab moril dan empati terhadp alumninya.
kenapakah seperti itu?
(jadi curhatko ceritanya ini, TERUZ mesti bilang wow githu),...
4. Sampai saat ini alumni uin yang mendaftar program profesi masih
banyak yg gugur pada waktu ditest. Apakah ini membuktikan bahwa alumni
uin kualitasnya masih dipertanyakan ataukah memang ada udang dibalik
batu. Tes nya susah, orangnya kurang pintar atau kurang cerdas kali.
lantas jika alumni uin berguguran pada waktu hasil test di umumkan dan
alumni dari luar ternyata ada juga yang lulus, apakah pihak alumni tidak
merasa tersinggung melihat anaknya sendiri nangis lantas anak orang
lain gembira.
5.kalau selama ini mahasiswa Makassar citranya
buruk oleh orang2 luar Makassar, maka saya juga bisa bilang bahwa saat
ini citra pihak uin khususnya untuk program profesi ners ternyata juga
citranya buruk.
kenapa saya bilang demikian bahwa sampai saat ini
yang saya dengar2 keluhan dari senior2 bahwa ternyata terlalu banyak
biaya yg dikeluarkan untuk profesi ners. Karena setiap seminar kasus dan
jurnal reading mahasiswa mesti mengeluarkan uang saku mereka untuk
membiayai orang2 yg telah berpenghasilan, apakah tidak malu klw
mahasiswa yang traktir org2 yg telah punya duit. Klw sejenis air minum
putih yah wajarlah itu sebatas penghargaan kami sm guru2. Tp kalau
mahasiswa yang harus belikan parsel yang isinya wow lumayan mahal (ccm
bede) itu kan sdh tidak wajar. Perlu kyaknya diklarifikasi tradisi2 yg
sperti ini. Jika hal ini dibiarkan berarti produksi generasi profesi
keperawatan saat ini untuk kedepannya dituntut kembali modal. Mengingat
biaya yg dikeluarkan sangat banyak. Artinya banyak jalan menuju roma
(tergantung individu, apakah positif ataupu negatif) dan boleh jadi
berimbas pada pelayanan kesehatan kedepannya karena tidak memikirkan
sisi kemanusiaan lagi akan tetapi yang dipikirkan bagaimana caranya
biaya kuliah harus kembali semuanya (hipotesis sementara tp sdh ada yang
terbukti).
6.kemudian keluhan juga dari senior bahwasanya
tidak ada keseragaman antara metode askep yg diterapkan oleh pihak
institusi dengan pihak lahan. Masing2 memiliki metode tersendiri, apakah
NANDA (the north American nursing diagnosis association), NIC(nursing
intervention clasification ),NOC (nersing outcome classification)
ataukah ISDA yang sekarang lg berkembang (Intan’s screening diagnoses
assesment). Jadinya mahasiswa pusing yg mana yg benar institusi ataukah
lahan.
nah muncul pertanyaan, kan sebelum senior terjun kelahan
mereka pada ngumpul bareng baik dari institusi maupun dari lahan,
artinya sdh ada pembicaraan awal tentang masalah tersebut tp kenapa pada
prakteknya beda. Maka muncul hipotesis, sebenarnya mereka diskusi
tentang keseragaman askep atau apakah? Kenapa masalah yg seperti ini
selalu terjadi, apakah tidak ada evaluasi hingga Jatuh terus dalam
lubang yang sama.
6.kemudian keluhan lagi dari senior, maaf klw terlalu banyak keluhannya.
katanya alumni profesi nantinya akan menghasilkan lulusan yang
professional yang mengandalkan sama teori2 ilmiah bkn abal2 yg asbun
(asal bunyi). Nah saran sama penaggung jawab profesi ners, senior2 kami
yang ingin meminjam buku di perpustakaan itu masih terhambat alias tidak
bisa meminjam, berarti dituntut dong punya buku sendiri (bagus lagi iya
punna nia doe’). Katanya belum ada klausul kerjasama dari pihak profesi
dangan pihak perpus. Nanti gara2 itu kami tidak kembalikan bukunya
perpus. Kan rugi perpus toh. Nah untuk program sekarng ajaran tahun 2013
mestinya sdh bisa pinjam buku diperpus fakultas dan umum.supaya kami
juga leluasa mendapatkan referensi dari buku sehingga tugas kami tidak
lantas kopas dari senior2 tp memang betul2 kami bisa pertanggung
jawabkan. Kan kalau seperti ini akan separel dengan visi dan misi uin.
Ini masukan unutk pihak uin barangkali terlupakan. Ada namanya itu
khilaf toh. Jadi kit saling mengingatkan.
7. Terus untuk PANUM
mungkin masukan aja, seyogyanya harus ada review ulang materi ASKEP
yang akan nanti di buat pada waktu mahasiswa turun kelapangan. Jadinya
tidak kebablasan dan tidak asal kopi saja. Hasil akan sejalan dengan
kesiapan. Kalau tidak siap lantas langsung terjun kelapangan, kan bisa2
mati ditempat. Karena pengalaman selama mengcover profesi, yang lagi
panum sedikit sekali yang mengulang askep masing2 departement. Rata2
dosen hanya mengajarkan praktiknya itupun masih setengah2. belum ada
pengawasan dari pihak penangnggung jawab profesi ners. Padahal menurut
saya ini yang lebih penting krena menyangkut tindakan mandiri perawat
dan keberhasilan pelayanan kesehatan. (yah mungkin juga karena
terkendala SDM).
8. masukan lagi bisa yah dijelaskan apa saja
kelebihan yang akan kami dapatkan jika mendaftar pada program profesi
ners spy kami tidak mengeluh akan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak
UIN. Kan kalau ada informasi jelas tentang alasan2 diatas tdk adalagi
unsure saling menjelek2 kan malahan kita harusnya saling membangun dan
memberikan motivasi.
Apakah kami kalau lulus akan terjamin ikut
menjadi peserta UKK (ujian kompetensi Keperawatan) krn salah satu
prasyarat ikut UKK, program profesi tersbut harus terakerditasi minimal C
dan spengetahuan saya prodi UIN masih ijin penyeleggaraan profesi dan
belum terakreditasi.? Mohon share infonya.
saya kira
serangakaian sharing diatas ini hanyalah secuil pengalaman dan penilaian
dari program diatas, mungkin masih banyak lagi saran,kritikan, dan
komentaar tp tak sempat tersalurkan. Semoga dengan keluhan diatas
menjadikan saya tidak berprasangka buruk akan tapi lebih mengarah pada
saling nasehat-menasehati (sesuai dengan QS.Al-ashr) dan hadits
rasulullah untuk saling memperingati dan saling membangun.( jika ada
yang berbuat kejelekan maka pukullah dia, kalau tidak bisa dipukul, maka
tegurlah dia dan kalau tidak bisa lagi yah masukkan dalam hati dan
doakan dia spy kembali kejalan yang benar dan itulah selemah2 IMAN.)
mudah2an tuhan menilai ibadah disiinya segala amal usaha yang kita lakukan.AMIN.
Read more...