Diberdayakan oleh Blogger.

Sosialisasi Hasil Rapat Kepanitiaan Mubes 2012 II

>> Rabu, 05 Desember 2012

Created by : akidah (2009)

Alhamdulillah, SCLERA kembali menggelar rapt kepanitiaan MUBES yang kedua pada tanggal 03 Desember 2012 kemarin. Rapt dipimpin langsung oleh ketua panitia, saudari Anita (2010). Adapun diantara beberapa hasil pembicaraan dan yang nampak dipelupuk mata saya waktu itu (versi lebay) adalah :

1. Sudah ada Stiker SCLERA yang dijual dengan harga Rp. 5000 rupiah (saya yakin ini bahkan tak sanggup untuk merogoh terlalu dalam kocek anda), so...bagi rekan-rekan senior, adik-adik dan teman2 yang merasa belum mengenggam STIKER, segera merapat pada saudari kiki (2010)>>tapi jangan rapat betulan, kasian calon suaminya kiki ntar, wkwkwkwk

2. Mubes FIKS tanggal 08-09 Desember 2012 di Bantimurung, Maros (bagi warga SCLERA yang pengen ikut, mendaftar segera ke ketupat untuk ditindaklanjuti (apa??)

3. Dana yang terkumpul hingga saat ini bekisar Rp. 900.000,-, belum termasuk biaya nginap dan makan juga kontribusi buat ke air terjun, diharapkan partisipasi warga SCLERA yang ingin ikut untuk berkontribusi (tidak akan semahal jika anda pergi sendiri)

4. Rancangan AD/ART dan PO akan disusun oleh komite yang terdiri dari :
-Abd. Rahman (08)
-Aswedi (09)
-Nur Akbar (09)
-Bahtiar (09)
-Ayudiah (09)
-Akidah (09)
-Safri (07)

5. Ceklok dilakukan pada tanggal 05 Des 12 (tepatnya hari ini, sore tadi) yang dieksekusi oleh saudari kiki (10) beserta pasangan*siapa yah??, dan salmawati (09) bersama pasangannya*insyaAllah jika j** berkehendak...wkwkwkwkwk (sori buat yang merasa)

6. Dengan Hormat mengundang pada seluruh pasukan keperawatan mulai angkatan 2005-dst untuk ikut serta  menyukseskan kegiatan kita bersama...datang di kakak2, adik2, heheheh

7. Akan dilakukan penyuratan untuk setiap angkatan, dan sangat diharapkan juga partisipasi baik dari segi moril ataupun materiil..

8. Isu-isu next pengurus akan segera dieksekusi...(merasameko yang merasa*heh?)

9. Anggota KEPENG (Kaum muda), kalian ditelan bumi yah?kok gak pernah muncul rapat...

10. Sekom di eksekusi oleh Saudari Salma (09) dan udin (11), bantu juga tawwa yang lain...

11. Tema Mubes di handel ketua umum III (jadi penasaran, cepat2mi publikasikan)

12. Tabe diy, pengurus angkatan III, siapkan semua LPJta...jangan nanti hari H baru SKS...

13. SC (Stering Comitee) di handel oleh Kak Abd. Rahman Rara, S.Kep, so bagi senior2 yang membaca postingan ini...merasa berpotensi/berpengalaman/pernah menjadi SC and mengenal SCLERA dengan baik dan benar, janganmeki segan-segan ajukan dirita diy..untuk acarataji juga ini...bantu tawwa kak rahman.

Sekian dari puskom, kalo ada tambahan dari rekan-rekan.Monggo...^_^



 

 


Read more...

Ingin Tahu Kualitas Rumah Sakit? Tanya Susternya

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jumat, 12/10/2012 18:30 WIB
 
Di hamburkan oleh : Bahtiar (2009)
 
Jakarta, Banyak orang penasaran bagaimana cara menilai kualitas sebuah rumah sakit. Untuk mendapat penilaian yang menyeluruh, memang diperlukan pemeriksaan oleh instansi terkait. Namun dengan cara sederhana, penelitian menemukan bahwa kualitas rumah sakit bisa ditanya dari suster perawatnya.

Mengapa demikian? Salah satu alasan yang dilontarkan peneliti dari University of Pennsylvania School of Nursing adalah karena suster memiliki persepsi yang akurat tentang kualitas pelayanan di rumah sakit tempatnya bekerja. Suster berada di garis depan dan paling akrab dengan pasien sehari-hari.

"Untuk melihat gambaran lengkap kinerja rumah sakit, data dari suster sangat penting. Penilaiannya tentang kualitas rumah sakit tumbuh lewat lebih dari 1 kali pertemuan saja. Mereka melakukan serangkaian interaksi dan pengamatan langsung mengenai perawatan pasien," kata peneliti, Matthew McHugh seperti dilansir Medical Xpress, Jumat (12/10/2012).

Penelitian yang dilakukan McHugh ini mengamati hubungan antara kualitas perawatan rumah sakit dengan laporan para suster yang bekerja di rumah sakit tersebut. Ada lebih dari 16.000 orang suster dari hampir 400 rumah sakit di California, Florida, New Jersey dan Pennsylvania yang dilibatkan.

Pendapat dan persepsi para suster mengenai tempatnya bekerja ternyata mencerminkan kualitas rumah sakit secara akurat, misalnya dalam hal penanganan komplikasi setelah operasi dan tingkat perawatan pasien. Para peneliti juga menemukan bahwa suster di rumah sakit yang dikenal memiliki perawatan luar biasa mengaku tempat kerjanya memiliki perawatan yang sangat baik.

"Informasi dari suster bermanfaat dalam konteks perawatan. Suster memiliki wawasan mengenai interaksi antara profesional medis, teknologi, pasien dan tingkat pendidikan keluarga yang tak selalu didokumentasikan dalam rekam medis, tetapi sering membuat perbedaan dalam kualitas rumah sakit," kata McHugh.

Pengen nanya yang mana?


ini suster yah??

Dalam laporan yang dimuat jurnal Research in Nursing and Health, peneliti menjelaskan bahwa penilaian kualitas layanan kesehatan ini biasanya digunakan untuk menyusun kebijakan di bidang kesehatan, serta mempengaruhi asuransi dan upaya perbaikan kualitas medis.

"Meskipun pendapat pasien adalah indikator yang paling relevan mengenai kualitas perawatan, namun laporan suster mengenai kualitas pelayanan jelas merupakan indikator yang berharga dari kualitas sebuah rumah sakit," pungkas McHugh.

Read more...

10 Jurusan Paling Berguna Saat Cari Kerja

Diunggulkan oleh : Bahtiar (2009)


JAKARTA - Seberapa penting jurusan yang kita pilih saat kuliah menentukan peluang kerja di masa mendatang? Faktanya, beberapa lulusan dari jurusan tertentu harus banting setir menghadapi bidang ilmu baru yang benar-benar berbeda ketika bekerja.

Menurut survei terhadap sejumlah lulusan di Inggris yang dilakukan oleh Higher Education Careers Services Unit (HECSU) mengenai kegunaan jurusan yang dipilih ketika kuliah dengan kesempatan kerja, Jurusan Studi Filosofi dan Sejarah menempati urutan terakhir. Berikut 10 program studi (prodi) di perkuliahan yang paling bermanfaat di dunia kerja, seperti dilansir dari Telegraph, Selasa (20/11/2012).

1. Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Gigi
Sebesar 94,1 persen lulusan Ilmu Pengobatan dan Kedokteran Gigi merasa subyek studi yang mereka pelajari ketika kuliah membantu dalam mendapatkan pekerjaan dengan jangka waktu 18 bulan setelah lulus.

2. Farmasi dan Keperawatan
Sebanyak 82,1 persen lulusan prodi Farmasi dan Keperawatan mengaku jurusan tersebut membantu dalam mendapatkan pekerjaan setalah 18 bulan lulus.

3. Pendidikan
Secara konsisten, 72,4 persen lulusan jurusan Pendidikan mengaku jika subyek studi yang mereka pelajari selama perkuliahan memiliki keuntungan dalam mendapatkan pekerjaan dalam waktu 18 bulan setelah lulus.

4. Jurusan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM)
Para lulusan dari keempat disiplin ilmu tersebut secara konsisten mengaku jika gelar mereka berguna dalam mencari kerja. Dalam persentase, 65 persen mahasiswa Ilmu Fisika, 68,6 persen lulusan prodi Matematika dan Ilmu Komputer, dan 73,4 persen mahasiswa Teknik menyatakan, materi perkuliahan yang mereka pelajari berguna untuk meraih pekerjaan.

5. Hukum
Para lulusan Jurusan Hukum merasa menyukai pilihan mereka karena bermanfaat dalam memperoleh pekerjaan dengan jangka waktu 18 bulan setelah lulus. Sebesar 92 persen mahasiswa Hukum semester akhir merasa jurusan tersebut berguna dalam mencari pekerjaan. Namun, hanya 61,9 persen lulusan Jurusan Hukum yang merasa subyek studi mereka selama perkuliahan bermanfaat dalam mencari pekerjaan.

6. Bahasa
Para lulusan prodi Bahasa relatif puas dengan jurusan yang mereka pilih. Sebesar 60,8 persen lulusan mendapatkan pekerjaan setelah 18 bulan menamatkan studi mereka.

7. Biologi, Agrikultur, dan Ilmu Binatang
Hanya 54,3 persen lulusan dari ketiga jurusan tersebut yang merasa subyek studi mereka selama perkuliahan memiliki manfaat dalam mendapatkan pekerjaan. Jumlah ini menurun dibandingkan survei yang dilakukan kepada mahasiswa semester akhir di jurusan yang sama, yakni 75 persen yang mengaku jurusan tersebut berguna dalam mendapatkan pekerjaan.

"Responden dengan gelar Biologi mengindikasikan, ada beberapa isu tertentu yang berkaitan dengan kurangnya spesialisasi dalam gelar Biologi murni," tulis laporan tersebut.

8. Seni Kreatif dan Desain
Lulusan prodi ini yang merasa jurusan tersebut berguna dalam mendapatkan pekerjaan kurang dari 50 persen.

9. Jurusan Komunikasi Massa dan Dokumentasi
Prodi ini juga menempati urutan menyedihkan di mata para responden. Hanya 44,8 persen lulusan prodi tersebut yang mempertimbangkan jurusan tersebut bermanfaat dalam bursa kerja. Namun, 70 persen mahasiswa semester akhir pada jurusan tersebut berpendapat, materi studi yang mereka pelajari berguna untuk menemukan pekerjaan. Menurut laporan HECSU, prodi tersebut meliputi para lulusan dari sebagian besar subyek vokasi, termasuk Jurnalistik yang mungkin menyoroti isu bagaimana mengantisipasi lulusan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor media.

10. Studi Filosofi dan Sejarah
Hanya 42,5 persen mahasiswa jurusan tersebut yang setuju jika subyek studi yang mereka pelajari semasa kuliah memiliki keuntungan dalam mencari pekerjaan.(rfa)
 
Sumber : Okezone Kampus 

Read more...

Sedikit Share tentang Kebijakan Prodi Keperawatan UIN

BISMILLLAHI,..

Suara hati : Abd.Rahman Rara, S.Kep

Sangat,sangat,sangat dan sangat mengganjal.
tidak tahu mau berkata apa, tapi seperti inilah realitanya.
Mau tidak mau harus diterima,.. tapi alangkah bagusnnya kalau kita saling memngingatkan.

mari kita bahas point per perpoint.
1. melihat biaya pendaftaran yang ditawrkan kepada calon mahasiswa profesi, bagi saya ini terbilang mahal. sama halnya ada penyimpanan dibalik kebijakan ini.
beban yang diberikan terlalu diskriminatif sekali. seakan2 program ini setara dengan Strata Magister(S2)bahkan lebih mahal lg dibanding S2. tolong para pimpinan diberikan petimbangan juga terkait biaya pendaftaran. jangan karena saat ini wajib masuk profesi karena tuntutan profesi lantas kebijakan yg diambil sewenang2 saja. sama hal nya itu mendzalimi. (kami buth informasi sj spy jelas).

2. biaya BTQ untuk calon pendaftar yah km terima, tp knp mesti disamakan pembayarannya antara alumni UIN sendiri dgn Alumni dari Luar. padahal seyogyanya pihak UIN lebih bertanggung jawab terhadap alumninya klw masih ada yg tidak fasih membaca Al-qur'an. jangan cuma biaya2 terus yg dikeluarkan lantas hasil alumninya NOL. paling tidak unutk maslah ini di leburkan saja khusus alumni uin atau mungkin diberi pembekalan khusus klw memang blm mahir. kenapa demikian krn setelah kami masuk di UIN kami sdh ikuti program FIKIH dan QIRAAH selama satu tahun plus dengan sertifikatnya dan paling tidak ini yg manjdi dasar kami bahwa kami sdh lulus untuk ujian BTQ. bukannya kami takut tp kami melihat ini adalah kedzaliman. Disuruh membayar padahal kami sudah punya sertifikiat FIKIH dan QIRAAH apalgi kami lulus S1 bukan secara instaan loh, ujian2 semester dan ujian skripsi kami intergritas bukan asal2an. Jadi kalau pihak uin membebani alumni UIN berarti kebijakan ini dipertanyakan.
dan kami juga akan terima jk perlu dosennya khsusus nya dosen keperawatan juga perlu dites dulu sebelum kami jg dites. berikan contoh donk.
Heran,heran dan heran juga baca rincian biayanya, kenapa mesti di rincikan biaya BTQnya untuk alumni. tidak adakah tanggung jawab moral pihak UIn kepada alumninya.

3. program ini nampaknya dibuka secar UMUM, artinya belum pasti alumni UIN akan lulus. nah yang jadi pertanyaan besar, atas dasar apa pihak UIN memberikan kebijakan yg seperti ini. kenapa pihak uin tidak mempaketkan langsung sampai selesai lulus Ners untuk mahasiswa yg telah lulus Ujian masuk PTN. berrarti pihka UIN tidak memiliki tanggung jawab moril terhadap alumninya.(mana background UIN nya).
padahal untuk masuk d PTN itu butuh perjuangan yg keras. artinya km yg lulus telah melwati berbagai ujian masuk PTN lewat PMJK, SNMPTN, UMB, UML dll. apakah seleksi yg ketat ini tidak memberikan jaminan bahwa mahasiswa yg lulus itu adalah orang2 yang beinteleqtual tinggi dan agamis. sampai2 kami harus berperang melawan ribuan orang2 cerdas di Indonesia untuk mendapatkan jata kursi sbg mahasiswa keperawatan. lantas kenapa mesti pihak UIN mendzalimi lagi alumninya utnuk ikut lagi dalam pertarungan seleksi masuk profesi (mesti bayar lagi kwodong)
maka tetsimoni saya saat ini untuk pihak UIN.
klw masih ada seleksi masuk profesi ners khusu untuk alumni. maka metode seleksi yg diberikan oleh UIN selama ini melalui PMJK, UML, SNMPTN dll masih DIPERTANYAKAN dan DIRAGUKAN.???????
kenapa pihak UIN tidak mencontohi PTN yang favorit (UNHAS,UI,UNAIR,UGM dll) bahkan juga STIKES negeri dan SWASTA baik di lokal maupun nasional yg memberikan program satu paket dari prodi S1 keperwatan samapai NERS. mungkin kalau pihak swasta wajar lah, tp ini deh PT Negeri. Apaji, KECEWA Ja', UIN bedeng baru begituh. toh tidak mau mencontohi yg sdh di buat oleh PTN yg lainnya.
kenapa,kenapa,dan kenapa???
apakah atas dasar murah pembayaran semesternya di UIN khusus profesi ners (uang pendaftarannya mahal) atau apalah sehingga klw dibuka secara umum pasti org akan berlomba2 untuk mendaftar, maka muncul hipotesis sementara jangan2 ini investasi besar untuk masuk dikas UIN.(maaf klw dzuudzon)
kalau saya memposisikan bkn alumni UIN, maka penilan saya saat ini UIN belum kredibilitas dan Profesional. tidak konsisten terhadap mahasiswanya yg skrng mati2an menntut ilmu di UIN lantas tidak memberikan kelonggaran sampai betul2 dikatan profesional.
inikah yg diharapkan oleh pihak UIN. mestikah merka rela2 buat aturan perekrutan sampai2 tiga jalur seleksi yg ditawarkan. agar meraka mendapatkan lagi mahasiswa yg fresh face nya atau ada sesuatu yg terselubung atau seperti apalah.
padahal jika pihak UIN konsisten terhadp alumninya untuk menpaketkan program S1 dan NERS boleh jadi alumni yg diharapkan akan lebih menjanjikan mengingat kurikulum yg dijalankan skrng betul2 atas dsar best practice dan best teoritis untuk S1 nya sekarng nd tw mi iya klw profesinya. (pokoknya salut saja sm mahasiswa S1 UIN sekarng).

mengingat juga belum ada jaminan alumni uin bisa lolos seleksi CPNS minimal dia lulus berkasmo dulu. (pengalam penerimaan CPNS kemenkes 2012 tidak lulus berkas krn akreditasi C uin. klw kemarin2 adaji tawwa tp untuk kedepannya kebijakan itu dihapuskan). Lantas adakah rasa tanggung jawab moril dan empati terhadp alumninya.
kenapakah seperti itu?
(jadi curhatko ceritanya ini, TERUZ mesti bilang wow githu),...

4. Sampai saat ini alumni uin yang mendaftar program profesi masih banyak yg gugur pada waktu ditest. Apakah ini membuktikan bahwa alumni uin kualitasnya masih dipertanyakan ataukah memang ada udang dibalik batu. Tes nya susah, orangnya kurang pintar atau kurang cerdas kali.
lantas jika alumni uin berguguran pada waktu hasil test di umumkan dan alumni dari luar ternyata ada juga yang lulus, apakah pihak alumni tidak merasa tersinggung melihat anaknya sendiri nangis lantas anak orang lain gembira.

5.kalau selama ini mahasiswa Makassar citranya buruk oleh orang2 luar Makassar, maka saya juga bisa bilang bahwa saat ini citra pihak uin khususnya untuk program profesi ners ternyata juga citranya buruk.
kenapa saya bilang demikian bahwa sampai saat ini yang saya dengar2 keluhan dari senior2 bahwa ternyata terlalu banyak biaya yg dikeluarkan untuk profesi ners. Karena setiap seminar kasus dan jurnal reading mahasiswa mesti mengeluarkan uang saku mereka untuk membiayai orang2 yg telah berpenghasilan, apakah tidak malu klw mahasiswa yang traktir org2 yg telah punya duit. Klw sejenis air minum putih yah wajarlah itu sebatas penghargaan kami sm guru2. Tp kalau mahasiswa yang harus belikan parsel yang isinya wow lumayan mahal (ccm bede) itu kan sdh tidak wajar. Perlu kyaknya diklarifikasi tradisi2 yg sperti ini. Jika hal ini dibiarkan berarti produksi generasi profesi keperawatan saat ini untuk kedepannya dituntut kembali modal. Mengingat biaya yg dikeluarkan sangat banyak. Artinya banyak jalan menuju roma (tergantung individu, apakah positif ataupu negatif) dan boleh jadi berimbas pada pelayanan kesehatan kedepannya karena tidak memikirkan sisi kemanusiaan lagi akan tetapi yang dipikirkan bagaimana caranya biaya kuliah harus kembali semuanya (hipotesis sementara tp sdh ada yang terbukti).

6.kemudian keluhan juga dari senior bahwasanya tidak ada keseragaman antara metode askep yg diterapkan oleh pihak institusi dengan pihak lahan. Masing2 memiliki metode tersendiri, apakah NANDA (the north American nursing diagnosis association), NIC(nursing intervention clasification ),NOC (nersing outcome classification) ataukah ISDA yang sekarang lg berkembang (Intan’s screening diagnoses assesment). Jadinya mahasiswa pusing yg mana yg benar institusi ataukah lahan.
nah muncul pertanyaan, kan sebelum senior terjun kelahan mereka pada ngumpul bareng baik dari institusi maupun dari lahan, artinya sdh ada pembicaraan awal tentang masalah tersebut tp kenapa pada prakteknya beda. Maka muncul hipotesis, sebenarnya mereka diskusi tentang keseragaman askep atau apakah? Kenapa masalah yg seperti ini selalu terjadi, apakah tidak ada evaluasi hingga Jatuh terus dalam lubang yang sama.


6.kemudian keluhan lagi dari senior, maaf klw terlalu banyak keluhannya.
katanya alumni profesi nantinya akan menghasilkan lulusan yang professional yang mengandalkan sama teori2 ilmiah bkn abal2 yg asbun (asal bunyi). Nah saran sama penaggung jawab profesi ners, senior2 kami yang ingin meminjam buku di perpustakaan itu masih terhambat alias tidak bisa meminjam, berarti dituntut dong punya buku sendiri (bagus lagi iya punna nia doe’). Katanya belum ada klausul kerjasama dari pihak profesi dangan pihak perpus. Nanti gara2 itu kami tidak kembalikan bukunya perpus. Kan rugi perpus toh. Nah untuk program sekarng ajaran tahun 2013 mestinya sdh bisa pinjam buku diperpus fakultas dan umum.supaya kami juga leluasa mendapatkan referensi dari buku sehingga tugas kami tidak lantas kopas dari senior2 tp memang betul2 kami bisa pertanggung jawabkan. Kan kalau seperti ini akan separel dengan visi dan misi uin. Ini masukan unutk pihak uin barangkali terlupakan. Ada namanya itu khilaf toh. Jadi kit saling mengingatkan.

7. Terus untuk PANUM mungkin masukan aja, seyogyanya harus ada review ulang materi ASKEP yang akan nanti di buat pada waktu mahasiswa turun kelapangan. Jadinya tidak kebablasan dan tidak asal kopi saja. Hasil akan sejalan dengan kesiapan. Kalau tidak siap lantas langsung terjun kelapangan, kan bisa2 mati ditempat. Karena pengalaman selama mengcover profesi, yang lagi panum sedikit sekali yang mengulang askep masing2 departement. Rata2 dosen hanya mengajarkan praktiknya itupun masih setengah2. belum ada pengawasan dari pihak penangnggung jawab profesi ners. Padahal menurut saya ini yang lebih penting krena menyangkut tindakan mandiri perawat dan keberhasilan pelayanan kesehatan. (yah mungkin juga karena terkendala SDM).
8. masukan lagi bisa yah dijelaskan apa saja kelebihan yang akan kami dapatkan jika mendaftar pada program profesi ners spy kami tidak mengeluh akan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak UIN. Kan kalau ada informasi jelas tentang alasan2 diatas tdk adalagi unsure saling menjelek2 kan malahan kita harusnya saling membangun dan memberikan motivasi.
Apakah kami kalau lulus akan terjamin ikut menjadi peserta UKK (ujian kompetensi Keperawatan) krn salah satu prasyarat ikut UKK, program profesi tersbut harus terakerditasi minimal C dan spengetahuan saya prodi UIN masih ijin penyeleggaraan profesi dan belum terakreditasi.? Mohon share infonya.

saya kira serangakaian sharing diatas ini hanyalah secuil pengalaman dan penilaian dari program diatas, mungkin masih banyak lagi saran,kritikan, dan komentaar tp tak sempat tersalurkan. Semoga dengan keluhan diatas menjadikan saya tidak berprasangka buruk akan tapi lebih mengarah pada saling nasehat-menasehati (sesuai dengan QS.Al-ashr) dan hadits rasulullah untuk saling memperingati dan saling membangun.( jika ada yang berbuat kejelekan maka pukullah dia, kalau tidak bisa dipukul, maka tegurlah dia dan kalau tidak bisa lagi yah masukkan dalam hati dan doakan dia spy kembali kejalan yang benar dan itulah selemah2 IMAN.)

mudah2an tuhan menilai ibadah disiinya segala amal usaha yang kita lakukan.AMIN.

Read more...

Essaimu, langkah awalmu...

>> Rabu, 14 November 2012

Oleh : Nurul Akidah (2009)

Kemarin, tepat seleesainya rapat SCLERA, saya diberikan File oleh saudari sofiati dan nurazizah (2011) untuk memposting karya mereka dalam blog SCLERA, saya terima saja karena itu adalah hasil karya anggota baru SCLERA, dan katanya itu adalah essai terbaiki perekrutan kemarin, wah ini sungguh luar biasa sebagai langkah awal mereka....

Jujur, saya juga sering membuat essai dan tulisan-tulisan lain baik dalam bentuk cerpen yang dapat kalian lihat di blog saya, klik disini

Bahkan saya sering sekali merasa percaya diri mengirim hasil karya itu ke lomba-lomba cipta essai nasional, ada yang alhamdulillah akan terbit sebagai antologi (tunggu saja rilisnya) dan ada juga yang ditolak mentah2 bahkan tidak masuk nominasi...

pelajaran yang pernah saya dapatkan dari seorang juri essai nasional, yaitu dalam pembuatan essai, kita harus membedakannya ketika kita membuat catatan pribadi, curahan hati,  ataupun catatan pengalaman dan perjalanan, inti dari pembuatan essai sebenarnya adalah penawaran gagasan, mungkin ini yang perlu digarismerahi oleh para anggota baru dan anggota SCLERA yang lain ketika membuat essai.

Essai bukanlah curahan hati, tapi kumpulan paragraf yang mendeskripsikan dan menggambarkan keadaan atau insidensi sesuai dengan tema yang dimaksud, setelah paragraf itu, kita kemudian menyajikan gagasan orisinil kita sendiri, bukan hasil opini orang lain, bukan tren issue, ataupun gagasan orang lain....mungkin ini sedikit ilmu untuk warga sclera ....

Dalam pembuatan essai, alangkah baiknya kita menghindari kalimat berulang dan memperbanyak kalimat penegasan yang dramatis, bisa mengugah hati pembaca, yang dirangkaikan dengan fakta-fakta terkini...

Saya juga sebenarnya masih bingung, essai itu sebenarnya karya apa, karena ketika membaca essai saya sering menemukan karakter yang berbeda dari setiap tulisan, namun yang paling saya tidak bisa pungkiri adalah adanya penawaran gagasan di setiap naskah...

Saya juga pernah mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh SINOVIA (Lembaga Pers FK Unhas), waktu itu saya bareng dengan saudara akbar dan sahabuddin (2009), sahab membuat cerpen, sayapun demikian, sedang kak akbar membuat essai, cerpen sahab berhasil menjadi juara I, dan essai kak akbar jadi juara II, saya juga tidak membaca hasil karya kak akbar, apa kategori didalamnya sehingga bisa tembus menjadi juara II, sedang saya sendiri tidak dapat juara apa-apa, saya sempat malu-malu sendiri saat itu...namun kemalu-maluan itu bukan akhir dari tulisan saya...mungkin memang kak akbar lebih tahu mengenai essai yang baik seperti apa...

Tapi, ini adalah langkah awal bagi kita untuk mulai menulis....tidak perlu lihat persyaratan dan kategori, melihat ada anggota sclera yang bisa menulis saja, saya sangat senang....

Dalam pembuatan karya, memang kita tidak selalu menjadi yang terbaik untuk awalnya, tapi tanpa kita sadari kita sudah menjadi yang terbaik untuk diri sendiri....inilah yang menjadi prinsip saya selama ini ketika ada tulisan saya yang gagal terbit...

Mungkin sekian dulu share ilmu ini...

Salam publikasi!

Read more...

Essai : Dislike at The First

 Oleh : Azizah (2011)

Raga membeku, lisan pun keluh, tak ada kata yang dapat menggambarkan kondisi pikiranku saat itu. #Ceilee
Yah, setidaknya aku benar benar bingung dan kacau saat menatap layar monitor komputer di rumahku. Disana jelas tertulis “SELAMAT, ANDA LULUS DALAM PROGRAM STUDI KEPERAWATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR”, kata-kata singkat yang bisa mengubah jalan hidupku dalam sekejap. Honestly, aku justru sedikit berharap agar tidak lulus di jurusan ini. Bukannya pamer apalagi sombong loh ya, tapi sebelum pengumuman itu aku sudah dinyatakan lulus di jurusan farmasi dan analisis kesehatan, yang sebenarnya aku lebih memilih jurusan-jurusan itu dibandingkan keperawatan.
Hmm, mungkin ini kali ya yang dinamakan andilau alias antara dilema dan galau. Rasa-rasanya berjuta-juta pemikiran pop out in my brain pas natap layar monitor ajaib itu, pas ngebaca tulisan aneh itu yang bisa ngebuat aku kaku beberapa menit. Gimana kalo mama maksain masuk keperawatan, gimana kalo aku disuruh milih jurusan-jurusan itu, gimana kalo pilihanku gak sesuai sama mereka, gimana kalo akhirnya aku kuliah di makassar, gimana kalo aku gak kuat jauh dari ortu, gimana kalo gimana kalo gimana kalooooo. Huah, ini otak bisa pecah seketika rasanya.
Try to breathe deeply, huussaaaaah
Kabur dari depannya monitor ajaib, menuju ke ruang tamu yang personilnya ada mama, abah, dan kakak. Kasih tau gak eaa? kasih tau gak eaaaa? Masih belum berani ngomong ke mereka tentang pengumuman lulus di keperawatan ternyata. Besok-besok aja sudah ngasih taunya, butuh persiapan mental juga dengar pendapat mereka tentang jurusan yang satu ini, pikiranku saat itu.
Keesokan malam harinya, masih dalam agenda keluarga biasanya, ngumpul diruang tengah sambil nonton bareng ngetawain tingkahnya sule. Okke, ini saatnya kukatakan semua. #ceileee
Tanpa basa-basi, withoutopening session, plus ekspresi wajah datar, terucap kata “ma, nur lulus di keperawatannya UIN”. Senyum sumringah pun menyambutku tanpa kuminta, “alhamdulillah naak kalo gitu, jadi mau ambil jurusan yang mana ini?”, sesaat aku merasa ada titik cerah agar memilih sesuai yang aku mau, “kalo nur, kayaknya lebih condong ke yang farmasi ma”. Senyum yang tadi mulai luntur deh, hmm persis seperti yang kubayangkan diawal, gini nih jawabannya mamaku “kalo kamu memang betul betul mau di jurusan itu, coba dipertimbangkan aja lagi nak, mama sih Cuma pengen bisa dirawat oleh tangan anak mama sendiri”. Hmmm, habis suda harapanku untuk dijurusan lain, aku memang paling gak bisa ngebantah permintaannya mamaku, apalagi bener bener skakmat gak punya jawaban lagi, lagian satu rumah ngedorong aku masuk ke jurusan ‘kemayu’ itu. Pasrah bener bener pasrah dah aku.
Persis kayak waktu liat pengumuman itu, wajah datar pikiran kosong melompong terpajang saat hari pertama masuk kuliah sebagai mahasiswa keperawatan UIN. Yang awalnya memang sudah badmood, jadi makin badmood gara-gara dikumpul kumpul sama senior yang pada merokok didalam ruangan, makin ngerasa salah masuk jurusan rasanya. Belum lagi tugas-tugas yang cukup menggila plus laporan-laporan yang bikin otak bisa berdarah. #lebaimodeon
Tapiiiiiiii, semua keterdislikean terhadap jurusan ini lumpuh sudah seiring bertambahnya pemahamanku tentang keperawatan, dan ada banyak harapan dan impian dari mama untukku disini. At the first i do everything in this major bcz of my mom, bcz i want to make her dreams comes true. Dan kini, mimpinya telah menjadi mimpiku, masih banyak hal yang harus aku raih, masih banyak cita yang perlu tuk digapai. Jurusan ini telah menjadi jalanku, jalan untukku membahagiakanmu. Ibu
 
 Nb : Ini juga salah satu esai terbaik, selamat nah...

My Profile :

Full Name           : Nurazizah  
NickName           : Azizah atau Ijah  
TTL                     : Santan Tengah (KuKar), 16 Agustus 1993
Daerah Asal         : Bontang, Kal-Tim
Gol. Darah          : B 
 Jurusan                : Keperawatan ‘01
Semester  : III (Ganjil
Moto Hidup        : “Jadilah pembeda sebaik-baiknya pembeda. Karena yang berbeda belum tentulah yang terbaik, dan yang terbaik tentulah yang berbeda.”
Motivation         : “jika ingin mendapatkan sesuatu yang belum pernah didapatkan, maka lakukanlah hal (+) yang belum pernah dilakukan. The point is, berpantas dirilah untuk mendapatkan segala hal (+) yang kita inginkan.”

Read more...

Essai : Apakah kalian suka berada dalam jurusan keperawatan ?

Oleh : Sofiati (2011)
Ya, saya sangat bersyukur dan merasa  bangga sekali bisa masuk serta terdaftar sebagai mahasiswa keperawatan di UIN Alauddin Makassar ini. Menjadi seorang Perawat merupakan impian bagi saya sejak saya duduk di bangku SMP. Tentu saja impian itu tidak datang dengan sendirinya dalam hidup saya. Itu semua berawal dari pengalaman-pengalaman kecil yang sangat bermanfaat sekali bagi saya, serta mampu  mengubah tujuan dan arah hidup saya sampai saat ini.




             Sebenarnya dari kecil cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter, dimana dalam pikiran saya muncul perasaan ingin merawat orang yang sakit,  bisa memberikan obat, mengobati luka pasien, bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang hidup di bawah standar kemiskininan dll. Namun ternyata semua itu bertentangan dengan apa yang telah saya alami dan amati selama ini. Hal itu bermula ketika orang tua saya membawa saya berobat langsung ke tempat praktek dokter agar bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan pengobatan yang tepat. Hasil yang kami kami dapatkan amatlah jauh dari harapan kami, dokter yang datang terlambat, penanganan yang lambat, dan sungguh dokter yang sangat menyedihkan bagi saya senyumpun tidak pernah, dan yang paling menyedihkan bagi kami bukanya kami mengemis kata maaf dari dokter itu tapi yang setidaknya ada kata-kata yang terucap dari bibir pahit si dokter sebagai permintaan maaf atas keterlambatanya karena hampir 1 jam kami menungggu si dokter. Alasan dari orang tua saya tidak membawa langsung saya ke puskesmas karena katanya apabila kami pergi ke puskesmas belum sampai di pintu masuk sudah terpasang muka muram dari para perawat yang bertugas, maklum kebanyakan yang datang adalah keluarga yang membawa kartu JAMKESMAS, kebanyakan ngomel dari pada kerjanya, dan terkenal juga sadis-sadis. Sungguh citra seorang perawat di mata masyarakat sangatlah buruk. Namun saya juga mengerti pekerjaan sebagai seorang perawat adalah bukan hal yang mudah , mungkin karena terlalu kelelahan menangani begitu banyak pasien, memeriksa setiap 3 jam dan masih banyak yang lainya. Padahal, tidak semua perawat bersikap seperti itu kepada pasienya seperti yang dikhawatirkan orang tua saya dan masyarakat pada umumnya. Perawat  betul-betul memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat, melayani pasien 24 jam penuh, langsung berurusan dengan masalah pasien seperti memasang infuse, malakukan hacting, membersihkan luka, mengganti balutan, dan mendengarkan langsung keluh kesah dari pasien, bahkan perawat mempertaruhkan nyawanya apabila menangani pasien yang dengan penyakit menular, tidak tertutup kemungkinan perawat sendiri bisa tertular oleh penyakit pasien tersebut jika kondisi perawat tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan tersebut (sakit), maupun jika perawat tidak berhati-hati dalam melakukan tugasnya, yang  jika hanya dibandingkan dengan pekerjaan  seorang dokter hanya datang memeriksa satu kali sehari, tidak ada yang bisa bergerak selagi dia memeriksa, satu pasien bisa di hitung menit sungguh ironis sekali kenyataan yang harus di hadapi oleh seorang perawat. Apalagi di mata masyarakat awam perawat adalah seseorang yang hanya dianggap sebagai pembantu dokter, yang melakukan pekerjaan ketika dokter yang menyuruh, bahkan sampai saat ini anggapan seperti itu masih ada di sebagaian kalangan masyarakat.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut cita-cita saya yang ingin menjadi dokter hilang begitu saja dan dalam hati saya muncul dorongan yang sangat kuat agar saya bisa menjadi seorang perawat, supaya saya bisa  membuktikan kepada masyarakat bahwa seorang perawat tidaklah seperti apa yang masyarakat pikirkan selama ini, saya akan  berusaha memberikan pemahaman-pemahaman kepada masyarakat bahwa seorang perawat itu bukan sebagai pembantu dokter tetapi sebagai mitra dari dokter, dokter hanya bisa melakukan pekerjaanya ketika di bantu oleh perawat. Saya akan berusaha memberikan pelayanan terbaik saya tanpa membeda-bedakan pasien dari segi sosial, pendidikan maupun ekonomi.  Serta yang paling penting bagi saya adalah untuk memegang kuat pada prinsip hidup saya  “sertai setiap langkahmu dengan keikhlasan dan senyuman” yang insya Allah  dapat mematahkan citra buruk masyarakat terhadap seorang perawat. Jadi berada dalam jurusan keperawatan ini bagi saya adalah sesuatu yang sangat-sangat saya sukai yang bukan hanya dijadikan sebagai pelarian karena sesuatu hal. 

Nb : Essai ini adalah salah satu dari tiga essai terbaik dalam perekrutan anggota SCLERA kemarin, selamat yah!  
 Biodata Penulis :
Nama lengkap       : Sofiati
Nama panggilan   : Sofi atau ati
TTL                         : Sie, 21 Juni 1993 
Asal                       : BIMA-NTB 
Jurusan          : Keperawatan B “011”     Semester                : III  (tiga)
Motto                   : “kegagalan merupakan         jembatan awal menuju kesuksesan

Read more...

Bahtiar (2009)

"virus "KEPENG" merajalela ..... hati2 efek sampingnya .... ckckckckck"

Nur Akbar (2009)

"Coming soon.. Musyawarah besar keluarga besar SCLERA.. Don't go any where!!!"

Bahtiar (2009)

"makanya kadernya juga jgn timbul tenggelam .... tetep mengapung .... hahahahaha"

"mau pemkes terus bikin baju n jket n gerakan 1rb sclera ters mau cari sekret"

"
berjuta pengalaman baru, beribu silahturahmi, beratus canda tawa, berpuluh keluh kesah, namun kita bersatu meretas segalanya ....memory of sclera in malino .... semoga menjadi batu loncatan menuju kemajuan"

Sahabuddin (2009)

"Dimata Z, Sclera diantara hidup dan mati... kedepannya harus lebih konsisten!"

Arman (2005)

Assalamu alaiku,...
Adik-adik/teman2 yang butuh alat/Buku kesehatan (kedokteran, keperawatan, bidan, dll) yang murah bisa hubungi 08524292013

Jackline (2009)

"For Ramla Runa Mana Foto2x Yg seru itu bersama Andi Enni Yulfanita,Ella Nag Nerzizta,Uchy Dompu,?Kasihan teman qt Sahabuddin Ubaydillah jd Fotografer sejati ditambah peristiwa2 lucu. Jd senyum2 sendiri kalo ingat kalian.Hehe:)"

"Nice Memory In Malino I'll not 4get it.Thankz 2 all Of U guYzs:)"

Anita Sukarno (2010)

"Ehh tabe senior... itu blog mohon dipublikasikan...krn mau tongki baca2ki jujaaa hehe

Oh iya.... mubes kita tgl 1-2 desember...itu masih perkiraan...."

Safri Jafar (2007)

"Apresiasi yg sebesar-besranya untk ade2 di sclera....
silahkan berproses dinda dan catatkan sejarah ta' dengan warna yg dinda anggap terbaik. Kami senior2 selalu mnjdi pendukung utama anda....."
"aslm.....
dinda, ada masukan dri slah stu teman. Klo nama Slera nda usah pke Ners tpi nursing aja krn Ners merujuk kpd Profesi Ners yg mrupakn tingkatan pendidikan di keperawatan.... Sdnkn Nurse merujuk kpd orgnya yg bkan lgi status mahasiswwa...
Terimaksih.
semangaddd."

Bahtiar (2009)

Sclera vacum...ndak ada kegiatan....saya kira inilah saat yang tepat do ACTION...NOT ONLY SAY LATER.....

Ayudiah Uprianingsih (2009)

"Kalau perawat perempuan dipanggil "suster", maka perawat laki-laki dipanggilnya "master" :-)

Nurul Akidah (2009)

"Teman2, ditauji memorinya itu rumah sebelum kita datang menginap disana semalam?"

*edisi horor

Fitriani Hardianti (2009)

"Sclera agak timbul tenggelam..
kdang kluar dgn berbagai macam kgiatan tpi kdang jga vacum.."

Ns. Arbianingsih Tiro, S.Kep, M.Kes

Selamat dan sukses aksi mhs perawat seindonesia ke DPR RI 15/10/12.600 org,berhasil mendesak anggota panja utk tandatangan janji menyelsaikan RUUK.target 22/10/12 masuk pleno komisi utk diserahkan ke baleg.terima kasih mhs,tetap semngat,calon perawat pemimpin masa depan.mari kita kawal bersama

Abd. Rahman Rara (2008)

kapan teman-teman sclera ngumpul lagi, mumpung masih belum terlalu sibuk, sisipkan waktu untuk duduk sama2 dan share knowledge untuk improvisasi ilmu keperawatan khususnya untuk sclera. teman2 angkatan baru menunggu inovasi dan karya terbaru dari sclera. saya kecewa jika mental teman2 untuk memulai beraksi puyar,...jk ini dibiarkan jagn harap teman2 akan memilki kpasitas ilmu keperawatan luas. klw cm mengandalkan proses belajar dikelas, sy yakin output ilmu tidak akan bertahan bahkan bertambah sekalipun pasti tidak akan. so, bagi teman2 yang memilki rasa malu, saya rekomendasikan untuk beraksi kembali. karyamu dnantikan oleh masyarkat keperawatan.

mari berbagi untuk berkarya,...

Imran Ahmad (2008)

"Saat kuliah, ingin rasanya menjadi bocah yang siap melakukan apa saja"

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP